Sejarah Desa Tengguli : Fase Sunan Kalijogo

Sekitar tahun 1479 M raja demak pertama,Raden Fatah dibantu dengan wali songo mulai membangun masjid agung Demak sebagai pusat penyebaran agama islam di jawa. Masjid tertua di pulau jawa ini konon dibangun dalam waktu satu malam yaitu pada tanggal 1 sofar
Hal ini ditandai dengan candrasengkala “Lawang Trus Gunaningjanmi”. Sedang pada gambar bulus yang berada di mihrab masjid ini terdapat lambang tahun Saka 1401 yang menunjukkan bahwa masjid ini berdiri tahun 1479.

Gambar bulus itu terdiri atas kepala yang berarti angka 1 (satu), 4 kaki berarti angka 4 (empat), badan bulus berarti angka 0 (nol), ekor bulus berarti angka 1 (satu). Dari simbol ini diperkirakan Masjid Agung Demak berdiri pada tahun 1401 Saka.

Atap Masjid Agung Demak ditahan empat tiang kayu raksasa yang khusus dibuat empat wali di antara Wali Songo. Saka sebelah tenggara adalah buatan Sunan Ampel, sebelah barat daya buatan Sunan Gunung Jati, sebelah barat laut buatan Sunan Bonang, sedang sebelah timur laut merupakan sumbangan Sunan Kalijaga.

Konon menurut cerita pada masa pembangunan masjid ini setelah sunan Ampel,sunan Gunung jati,dan juga sunan Bonang selesai membuat tiang penyangga(saka) sunan kalijaga menjadi bingung karena belum bisa mendapatkan kayu yang cocok untuk dibuat saka utama masjid agung tersebut. Ahirnya mengembaralah beliau kearah timur dan sampai pada suatu daerah( yang saat ini dikenal sebagai desa Tengguli) yang menurut cerita terdapat banyak kayu jati betkualitas tinggi.

Namun seperti belum jodoh kanjeng sunan kalijogo belum bisa menemukan kayu yang sesuai dengan harapannya. Yang beliau jumpai hanyalah kayu jati yang bolong dan tidak utuh disepanjang jalan. Ahirnya sebuah ukur tiang saka penyangga tadi dilempar disebuah kebun yang berada ditebing disebelahnya (punden gundil, Tengguli).

Keanehan mulai tampak ketika ada seekor burung yang melewati tempat tersebut terus terjatuh karena bulu-bulunya rontok,(dalam bahasa jawa disebut brondoli). Hal ini menimbulkan kecurigaan warga yang ahirnya ditelusuri dan menurut warga sekitar ada yang melihat kalau beberapa hari yang lalu ada seorang wali yang meninggalkan ukur dalam pencarian sebuah kayu jati yang ingin digunakan sebagai tiang saka penyangga masjid demak. Dari situ ahirnya dibangunlah sebuah gubuk kecil sederhana sebagai penanda tempat ukur sunan kalijaga tersebut.

Dalam perjalanan pulang kanjeng Sunan kalijaga menyempatkan untuk shalat ashar dan menyebarkan agama islam disebuah tempat dekat persawahan. Dengan keadaan seadanya beliau membuat tempat persholatan untuk menunaikan ibadahnya. beliau sempat membuat batu batu dan sekarang dipasang dalam pengimaman masjid, dengan ukuran batu bata yang berbeda dengan batu bata pada umumnya membuat orang beranggapan bahwa batu bata ini bukan batu bata sembarangan dan yang lebih mengejutkan, masjid dengan beberapa batu bata buatan kanjeng sunan ini membuat masyarakat menyebutnya sebagai masjid wali.

Beliau kanjeng sunan juga membuat Tanggul / bendungan sebagai tempat berwudlu bagi masyarakat sekitar, mengingat dimusim kemarau persediaan air relative terbatas. Dalam pembuatan Tanggul ini beliau Kanjeng Sunan dibantu oleh Mbah Kemproh dan Mbah Kutho.

Bangunan bersejarah berupa tanggul ini berada di barat masjid. Karena Tanggul ini dan yang membuat adalah seorang wali maka daerah tersebut kemudian dinamakan Tanggul Wali yang akhirnya menjadi Tengguli, Wallahu `alam.

Dengan adanya masjid dan tempat wudlu buatan kanjeng sunan ini menandakan bahwa masyarakat Tengguli berangsur – angsur menjadi masyarakat yang mengenal agama, perpindahan gaya hidup model jahili mulai terkikis dan menipis. Generasi sesudah kanjeng sunan nampaknya ikut meneruskan jejak beliau dengan mambangun masjid dan surau, lembaga- lembaga pendidikan. Dengan banyaknya tempat ibadah dan lembaga pendidikan yang ada maka masyarakat mulai agak rapi dan manusiawi. Pencurian, minuman, main perempuan dan pembunuhan mulai dirasa tabu dan harus cukup sampai disitu.

Beberapa tokoh kharismatik baik tokoh structural dalam pemerintahan maupun tokoh kultural ikut mewarnai desa Tengguli. Tokoh structural / lurah Tengguli adalah ; 1. Mbah Po. 2. Mbah Guiden 3. Buyut Singo Wongso 4. Mbah Tiguno 5. Mbah Mraki 6. Mbah Bati 7. Mbah Geger 8. Mbah saban 9. Mbah Marhaban 10. Mbah Sudarwin ( beliau adalah satu – satunya lurah di kecamatan bangsri yang sakti mondroguno). 11. Bapak Sukahar ( Alumni pesantren kajen, pati, terkenal lihai dalam berceramah, kalau sedang ceramah sulit dibedakan antara kapasitasnya sebagai lurah atau tokoh agama ) 12. Bapak Sukarno ( kepala desa yang satu ini terkenal dengan otot kawat balung besi, membuat tak nyaman para pencuri. 13. Bapak Suhariyanto ( alumni pesantren Jombang, Jawa Timur, beliau menjabat kepala desa dalam usia yang cukup muda dan menjabat lurah selama dua periode ).
13. Bapak Fatkur (2013 sampai sekarang).

Pada periode Mbah Po sampe Mbah Tiguno, Bangsri dan Tengguli masih menjadi satu wilayah, namun ditengah masa kepemimpinan Mbah Tiguno ini mulai ada pemekaran.

Dalam tokoh cultural kita mengenal nama Mbah Mastur dan Mbah Hadi adik mbah Darwin. Kegigihan tokoh structural dan cultural ini mampu mengharumkan nama Tengguli lebih menarik lagi setiap generasi yang pindah atau domisili ke daerah lain hampir bisa dipastikan ia menjadi tokoh untuk daerah tujuan, mungkin ini barokah dari telapak kaki kanjeng sunan, wallahu `alam yang jelas sangat beruntung bagi bumi Tengguli karena ada salah satu wali songo yang berkenan singgah di tempatmu.

Beberapa daerah dan ritual bersejarah. 1. Kali talon, dinamakan kali talon karena mengandung arti tiga sungai ( jawa=kali ), konon daerah ini kalau dilihat dari wilayah Guyangan, hanya tampak satu sungai tapi kalau dlewati dari utara maka kelihatan ada tiga sungai. Di kali telon ini juga ada makam syeh Hasan Anwar.
2. Sebedug. Konon disebut sebedug karena kalau siang hari didaerah ini selalu ada suara Bedug.
3. Kabumi / sedekah Bumi. Pelaksanaann ya pada hari jum`at pon bulan Dzul hijjah. Rangkaian ritual ini dimulai pada ; – H -7 diadakan selamatan di gundil. – Malam jum`at, diadakan terbang talon di masjid wali – Hari jum`at, penyembelihan kerbau jantan di rumah kepala desa, sebagian daging kerbau yang terdiri dari kaki kanan dan organ perut dibawa ke masjid wali dan diadakan selamatan ditempat setelah sholat jum`at ( sumber ; Bapak Suhariyanto ( kades Tengguli tahun 2012).

Tidak sia – sia apa yang diupayakan tokoh- tokoh Tengguli masa lalu, dari generasi ke generasi merasa mempunyai tanggung jawab moral untuk terus menjaga almamater daerahnya. Wujud nyata dari tanggung jawab moral adalah banyaknya organisasi pemuda dan lembaga pendidikan yang didirikan.

Hampir setiap daerah di wilayah yang luasnya ( +- 120 h ) dan dengan jumlah penduduk mencapai +- 14.000 orang ini berdiri lembaga pendidikan baik formal maupun non formal, tercatat ada delapan lembaga pendidikan tingkat dasar, tiga lembaga pendidikan tingkat menengah dan tiga lembaga pendidikan tingkat atas, untuk pendidikan non formal berjumlah enam pesantren. ini juga menandakan kalau Tengguli termasuk salah satu desa di Kecamatan Bangsri yang berbasis relegi

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan