Riwayat Tengguli

( Sumber : FB Senangku ada di Jeparaku. saya unggah dengan harapan ada masukan, berupa tambahan maupun koreksi)

Riwayat Tengguli

SEJARAH Tengguli. Dalam napak tilas, Tengguli berasal dari dua kata yaitu kata Tanggul dan Wali, sebagaimana Jakarta yang berasal dari Jayakarta. Anatomi nama tengguli ini dikutip dari uraian simbah Tahrir al maghfuri lahu, salah satu sesepuh desa Tengguli yang berdomisili di daerah Ujung Batu – Jepara. Sejarah singkat tentang asal usul nama Tanggul Wali menurut beliau sangat erat hubungannya dengan salah satu wali sembilan yaitu Kanjeng Sunan Kali jogo. Sudah menjadi qaidah tak tertulis bahwa peradaban Islam disuatu daerah selalu dikaitkan dengan peran dan keberadaan masjid di kawasan tersebut. Hal ini mungkin diilhami dari kerja nyata baginda nabi Muhammad SAW ketika hijrah ke Madinah. Tugas pertama yang beliau lakukan adalah membangun masjid nabawi. Ini juga menandakan peran masjid yang tidak hanya terbatas pada kegiatan ritual semata tapi lebih dari itu masjid adalah central pemerintahan islam, sarana pendidikan, tempat mengeluarkan fatwa dan sebagainya. Mungkin berangkat dari sejarah tersebut para wali songo / wali Sembilan dalam melakukan dakwah di tanah jawa telah melakukan hal yang sama. Inilah realita sejarah, kala para wali sembilan memutuskan untuk membuat Masjid di Demak sebagai sentral da’wah Islam ditanah jawa, beliau Kanjeng Sunan Kali jogo mendapat tugas mengupayakan bagian salah satu penyangga masjid / tiang / soko ( dalam bahasa jawa ), dengan amanah ini maka berangkatlah beliau untuk mencari kayu jati sampai ke wilayah jepara utara tepatnya di Tengguli satu kilo sebelah timur kota Bangsri, di sana ada daerah yang sesuai dengan keadaan alam tersebut bernama gundil dan hingga sekarang daerah ini masih terkenal bahkan konon alat pengukur kayu milik kanjeng sunan masih tertinggal di daerah ini, konon jika ada burung yang terbang melintas diatas benda keramat ini maka bulu burung tersebut pasti rontok ( bahasa jawa “ mbrondoli / gundul ) akhirnya daerah ini di sebut Gundil. Dalam perjalanan membawa misi tersebut, beliau kanjeng sunan juga memanfaatkan untuk berdakwah / menyampaikan pesan agama, di sebelah barat daerah gundil ( + 1 km), beliau sempat membuat batu batu dan sekarang dipasang dalam pengimaman masjid, dengan ukuran batu bata yang berbeda dengan batu bata pada umumnya, membuat orang beranggapan bahwa batu bata ini bukan batu bata sembarangan dan yang lebih mengejutkan, masjid dengan beberapa batu bata buatan kanjeng sunan ini membuat masyarakat menyebutnya sebagai masjid wali. Tidak cuma itu saja, beliau kanjeng sunan juga membuat Tanggul / bendungan sebagai tempat berwudlu bagi masyarakat sekitar, mengingat dimusim kemarau persediaan air relative terbatas. Dalam pembuatan Tanggul ini beliau Kanjeng Sunan dibantu oleh Mbah Kemproh dan Mbah Kutho. Bangunan bersejarah berupa tanggul ini berada di barat masjid. Karena Tanggul ini dan yang membuat adalah seorang wali maka daerah tersebut kemudian dinamakan Tanggul Wali yang akhirnya menjadi Tengguli, Wallahu `alam. Dengan adanya masjid dan tempat wudlu buatan kanjeng sunan ini menandakan bahwa masyarakat Tengguli berangsur – angsur menjadi masyarakat yang mengenal agama, perpindahan gaya hidup model jahili mulai terkikis dan menipis. Generasi sesudah kanjeng sunan nampaknya ikut meneruskan jejak beliau dengan mambangun masjid dan surau, lembaga- lembaga pendidikan. Dengan banyaknya tempat ibadah dan lembaga pendidikan yang ada maka masyarakat mulai agak rapi dan manusiawi. Pencurian, minuman, main perempuan dan pembunuhan mulai dirasa tabu dan harus cukup sampai disitu. Beberapa tokoh kharismatik baik tokoh structural dalam pemerintahan maupun tokoh kultural ikut mewarnai desa Tengguli. Tokoh struktural / lurah Tengguli adalah ; 1. Mbah Po. 2. Mbah Guiden 3. Buyut Singo Wongso 4. Mbah Tiguno 5. Mbah Mraki 6. Mbah Bati 7. Mbah Geger 8. Mbah saban 9. Mbah Marhaban 10. Mbah Sudarwin ( beliau adalah satu – satunya lurah di Kecamatan Bangsri yang sakti mondroguno). 11. Bapak Sukahar ( Alumni pesantren kajen, pati, terkenal lihai dalam berceramah, kalau sedang ceramah sulit dibedakan antara kapasitasnya sebagai lurah atau tokoh agama ) 12. Bapak Sukarno ( kepala desa yang satu ini terkenal dengan otot kawat balung besi, membuat tak nyaman para pencuri. 13. Bapak Suhariyanto ( alumni pesantren Jombang, Tawa Timur). 14. Bapak Fatkur. Pada periode Mbah Po sampai Mbah Tiguno, Bangsri dan Tengguli masih menjadi satu wilayah, namun ditengah masa kepemimpinan Mbah Tiguno ini mulai ada pemekaran. Dalam tokoh kultural kita mengenal nama Mbah Mastur dan Mbah Hadi adik mbah Darwin. Kegigihan tokoh struktural dan kultural ini mampu mengharumkan nama Tengguli, lebih menarik lagi setiap generasi yang pindah atau domisili ke daerah lain hampir bisa dipastikan ia menjadi tokoh untuk daerah tujuan, mungkin ini barokah dari telapak kaki kanjeng sunan, wallahu `alam, yang jelas sangat beruntung bagi bumi Tengguli karena ada salah satu wali songo yang berkenan singgah di tempat ini. Beberapa daerah dan ritual bersejarah. 1. Kali telon, dinamakan kali telon karena mengandung arti tiga sungai ( jawa=kali ), konon daerah ini kalau dilihat dari wilayah Guyangan, hanya tampak satu sungai tapi kalau dlewati dari utara maka kelihatan ada tiga sungai. Di kali telon ini juga ada makam syeh Hasan Anwar. 2. Sebedug. Konon disebut sebedug karena kalau siang hari didaerah ini selalu ada suara Bedug. 3. Kabumi / sedekah Bumi. Pelaksanaann ya pada hari jum`at pon bulan Dzul hijjah. Rangkaian ritual ini dimulai pada ;

– H -7 diadakan selamatan di gundil.

– Malam jum`at, diadakan terbang telon di masjid wali

– Hari jum`at, penyembelihan kerbau jantan di rumah kepala desa, sebagian daging kerbau yang terdiri dari kaki kanan dan organ perut dibawa ke masjid wali dan diadakan selamatan ditempat setelah sholat jum`at.

Tidak sia – sia apa yang diupayakan tokoh- tokoh Tengguli masa lalu, dari generasi ke generasi merasa mempunyai tanggung jawab moral untuk terus menjaga almamater daerahnya. Wujud nyata dari tanggung jawab moral adalah banyaknya organisasi pemuda an lembaga pendidikan yang didirikan. Hampir setiap daerah di wilayah yang luasnya ( +120 ha ) dan dengan jumlah penduduk mencapai + 12000 orang ini berdiri lembaga pendidikan baik formal maupun non formal, tercatat ada delapan lembaga pendidikan tingkat dasar, tiga lembaga pendidikan tingkat menengah dan tiga lembaga pendidikan tingkat atas, untuk pendidikan non formal berjumlah enam pesantren. ini juga menandakan kalau Tengguli termasuk salah satu desa di kecamatan Bangsri yang berbasis religi.

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan